Kamis, 19 Maret 2020

KHUTBAH JUM'AT " Mukjizat Mi’raj Tidak Berarti Allah di Atas "


KHUTBAH JUM'AT 20 MARET 2020


*Mukjizat Mi’raj Tidak Berarti Allah di Atas*

*Khutbah I*

  اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (١١) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (١٢) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) (النجم: ١١-١٤)


*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

 Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. 

*Saudara-saudara seiman*,

 Saat ini kita berada pada tanggal 25 Rajab 1441 H. 
 Pada setiap bulan Rajab, umat Islam di berbagai belahan dunia menyelenggarakan perayaan Isra’ Mi'raj, sebuah peristiwa agung yang merupakan salah satu mukjizat yang Allah anugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

 Dari atas mimbar, pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan menyampaikan penjelasan dari para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seputar Mukjizat Mi’raj dan bahwa mukjizat yang agung ini tidak menunjukkan Allah di atas, karena kesepakatan para ulama menyatakan bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada arah dan tempat, Allah ada tanpa tempat

*Hadirin yang dirahmati Allah*,

 Mukjizat Isra’ telah disebutkan dalam Al-Qur’an secara tegas dan eksplisit. 
 Oleh karenanya, barangsiapa mengingkari Isra’, maka ia telah mendustakan Al-Qur’an. 
 Sedangkan Mi’raj, Al-Qur’an tidak menyebutkannya secara sharih dan eksplisit, akan tetapi menyatakannya dengan keterangan yang mendekati nash yang sharih (eksplisit).  
 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (١١) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (١٢) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) (النجم: ١١-١٤)

Maknanya: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kalian (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha” (QS an-Najm: 11-14). 

Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah menyatakan: 
 Barangsiapa mengingkari mukjizat Mi’raj karena ketidaktahuannya tentang adanya Mi’raj dalam syara’, maka ia tidak kafir, akan tetapi dihukumi fasiq, karena Al-Qur’an tidak menyebutkan Mi’raj secara eksplisit. 

 Berbeda dengan Mukjizat Isra’ yang disebutkan secara eksplisit. Sedangkan seseorang yang mengingkari Mi’raj dengan maksud menentang ajaran agama, maka ia tidak lagi tergolong kaum muslimin. 

*Hadirin yang dirahmati Allah,*

  Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi imam shalat bagi para nabi di Baitul Maqdis, maka Rasulullah dibawa naik ke langit.
 Jibril pun meminta dibukakan pintu langit dan dikatakan kepadanya: Siapa anda? 
Jibril menjawab: Jibril.
Ditanyakan: Siapa yang bersamamu? 
Jibril menjawab: Muhammad. Ditanyakan lagi: Apakah ia telah diutus untuk Mi’raj ke langit? Jibril menjawab: Iya, ia telah diutus untuk Mi’raj.  
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits yang panjang:   “Lalu pintu langit pertama dibuka untuk kami. 
 Ternyata sudah ada Nabi Adam di sana. Ia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. 
  Kemudian Jibril bersamaku naik ke langit kedua, lalu ia meminta dibukakan pintu langit. 
 Jibril ditanya: Siapa anda? 
Jibril menjawab: Jibril.
Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? 
Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya lagi: Apa sudah saatnya Muhammad dimi’rajkan? 
Jibril menjawab: Iya, sudah saatnya dimi’rajkan. 
 Lalu pintu langit kedua dibuka untuk kami. 
 Ternyata sudah ada dua nabi bersaudara sepupu di sana, yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya ‘alaihimassalam. 
 Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.” 

  Demikianlah, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah dari satu langit ke langit berikutnya. 
 
Di langit ketiga, beliau bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang telah dikaruniai ketampanan yang luar biasa. 

Di langit keempat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. 

 Nabi Yusuf dan Nabi Idris ‘alaihimassalam juga mendoakan kebaikan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 
  Kemudian di langit kelima Nabi bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyadarkan punggungnya ke al-Bait al-Ma’mur. 
  Al-Bait al-Ma’mur adalah bangunan yang mulia tempat thawaf bagi para malaikat yang merupakan penghuni langit sebagaimana Ka’bah adalah tempat thawaf bagi para penghuni bumi.
  Setiap harinya, al-Bait al-Ma’mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk melakukan shalat di sana lalu keluar dan tidak kembali ke sana selamanya. Begitu seterusnya sampai hari kiamat. 
  Setelah itu Jibril membawa Nabi naik hingga ke Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang sangat besar nan indah menakjubkan, daun-daunnya lebar seukuran telinga gajah dan buah-buahnya besar seperti qullah (gentong). Akarnya berada di langit keenam dan menjulang tinggi sampai mencapai atas langit ketujuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sewaktu beliau berada di atas langit ketujuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan: 
  “Tidak seorang pun di antara makhluk Allah yang mampu menyifati Sidratul Muntaha saking indahnya. 


Kemudian Allah mewahyukan kepadaku beberapa hal:   

  Allah wajibkan kepadaku 50 kali shalat dalam sehari semalam, lalu aku turun menemui Nabi Musa. 
Ia bertanya: Apa yang Allah wajib kan kepada ummatmu? 

Aku menjawab: 50 kali shalat. Musa berkata: Kembalilah ke tempat yang di sana engkau menerima wahyu dan berdoalah meminta keringanan kepada Allah, karena ummatmu tidak akan mampu melakukannya, aku telah memiliki pengalaman dengan Bani Israil tentang hal semacam ini.”  
 Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke tempat semula dan meminta keringanan kepada Allah seraya berkata:

  يَا رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي

“Ya Allah berilah keringanan untuk ummatku.”   Nabi bersabda: “Maka Allah mengurangi menjadi lima shalat. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan aku berkata: Allah mengurangi menjadi lima shalat untukku. 
Musa berkata: Umatmu tidak akan mampu melakukan itu, maka mintalah kembali kepada-Nya keringanan.”   
Maka Nabi pun beberapa kali memohon keringanan kepada Allah hingga Allah mewahyukan kepadanya kewajiban shalat lima kali sehari semalam, setiap shalat terhitung pahalanya seakan-akan sepuluh shalat, sehingga totalnya menjadi lima puluh shalat. 
   Allah juga mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa berkeinginan melakukan satu kebaikan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka dihitung satu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya dihitung sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa berkeinginan melakukan keburukan dan tidak mengerjakannya maka tidak dicatat sebagai keburukan, jika dia mengerjakannya maka dihitung satu keburukan. 

*Saudara-saudara seiman*,

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa maksud dan tujuan dari Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperlihatkan kepada beliau keajaiban-keajaiban di alam atas, seperti langit, al-Bait al-Ma’mur, Sidratul Muntaha, ‘Arsy, surga dan lain-lain, dan mengagungkan derajat beliau.
  Sangat penting ditegaskan bahwa peristiwa Mi’raj tidak berarti sampainya Nabi ke sebuah tempat yang Allah berada di sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bertemu dan berkumpul dengan Allah seperti bertemunya makhluk dengan makhluk, karena Allah Mahasuci dari tempat, arah dan ruang. Allah bukan jisim (sesuatu yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman) dan Allah tidak menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya.
sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tegaskan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشورى: ١١)

Maknanya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS asy-Syura: 11)
  Oleh karenanya, jangan mempercayai sebagian buku yang menyampaikan cerita-cerita dusta yang menyatakan bahwa Allah mendekat kepada Muhammad hingga berjarak satu hasta atau bahkan lebih dekat.
Kisah-kisah semacam ini sangat bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan ayat 8 dan 9 dari surat an-Najm:


ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (٨) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (٩) (النجم: ٨-٩)

Tidak boleh dimakna bahwa Allah-lah yang mendekat kepada Muhammad hingga jaraknya seukuran dua busur panah atau lebih dekat. 

 Makna ayat tersebut sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Mi’raj adalah Jibril, bukan Allah subhanahu wa ta’ala.   
 Kita tidak boleh menyifati Allah dengan sifat berjarak dekat atau pun jauh, karena berjarak dengan sesuatu yang lain adalah termasuk salah satu sifat makhluk yang menunjukkan tempat dan arah tertentu.    
 Padahal para ulama kita selalu menjelaskan bahwa Allah Mahasuci dari semua tempat dan arah, berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin seperti ditegaskan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam karyanya, al-Farq baina al-Firaq:

   وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ 

“Kaum muslimin menyepakati bahwa Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat.” 

Hadlratusy Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan dalam mukadimah kitab at-Tanbihat al-Wajibat:

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ


“Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Mahasuci dari berbentuk (berjisim), arah, masa dan tempat.” 

*Hadirin yang dirahmati Allah,*

Demikian khutbah yang singkat ini. 
 Mudah-mudahan dapat memperkokoh aqidah dan keimanan kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

*Khutbah II* 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضٰالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَّوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ ما نَتَخوَّفُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى ويَنْهٰى عَنِ الفَحْشٰاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. 

MU'JIZAT ISRA' MI'RAJ


*MU'JIZAT ISRA' MI'RAJ *

         Isra' dan Mi'raj adalah salah satu mu'jizat terbesar nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam yang tidak diberikan pada nabi-nabi sebelumnya.
Wajib bagi setiap muslim mengimani adanya Isra' dan Mi'raj.

  Orang yang mengingkari Isra' jatuh pada kekufuran. Karena peristiwa Isra' telah dijelaskan secara sharih dalam Al Qur'an.
Allah ta'ala berfirman:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِیۤ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَیۡلࣰا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِی بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِیَهُۥ مِنۡ ءَایَـٰتِنَاۤۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

[Surat Al-Isra' 1]
"Maha suci Allah, Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam dari al masjid al haram menuju al masjid al Aqsho yang kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Kami, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

 Sedangkan Mi'raj dasarnya adalah Nash hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori dalam Shahih al Bukhari Kitab as Sholah.
  Dalam al Qur'an tidak ada Nash yang shorih yang menjelaskan tentang peristiwa Mi'raj. Namun ada yang yang mendekati shorih yang menjelaskannya, yaitu firman Allah ta'ala:

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ۝  عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ

[Surat An-Najm 13 - 14]

"Dan benar-benar nabi Muhammad telah melihat Jibril untuk kedua kalinya di dekat Sidrotul Muntaha"
 Sehingga orang yang mengingkari Mi'raj hukumnya dirinci, sebagia berikut:
 Jika dia memahami bahwa Sidrotul Muntaha itu ada di atas langit dan Nabi Muhammad berada di sana dalam keadaan sadar (tidak tidur), meskipun demikian dia tetap mengingkarinya maka dia jatuh pada kufur.
  Jika dia tidak mengetahui dan tidak memahami bahwa peristiwa Mi'raj ada dalam Al Qur'an dan dia juga tidak mengetahui bahwa Aqidah umat Islam meyakini adanya Mi'raj maka dia tidak jatuh pada kufur.


    Isra' Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, lima tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. 

    Isra' adalah diperjalankannya nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam pada sebagian dari suatu malam dari al masjid al Haram menuju al Masjid al Aqsho.

    Perjalanan Isra' dilakukan tidak sampai memakan waktu semalam penuh, tetapi hanya pada sebagian malam saja. 

     Al Masjid al Haram berada di Makkah al Mukarromah, disebut al Haram karena kemuliaan yang dimilikinya melebihi seluruh masjid yang lainnya. Ia memiliki hukum-hukum khusus, sholat di dalamnya pahalanya dilipatgandakan sampai seratus ribu kali lipat.

    Al Masjid al Aqsho berada di Palestina, disebut dengan al Aqsho karena jauhnya jarak antara masjid ini dengan al masjid al Haram. 

     Dalam perjalanan Isra', Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditemani oleh malaikat Jibril 'alayhissalam dengan mengendarai seekor binatang bernama Buroq.

     Buroq adalah binatang surga yang berwarna putih, postur tubuhnya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghl (peranakan kuda dan keledai).

    Dalam berjalan, Buroq mampu melangkahkan kakinya sejauh matanya memandang.

 Perjalanan Isra' dimulai dari rumah Ummu Hani'. Pada malam itu Rasulullah tidur bersama Hamzah dan Ja'far bin Abi Tholib.

 Sebelum berangkat Isra', Malaikat Jibril membedah dada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hati Rasulullah dicuci dengan air zamzam dan diisi dengan kesempurnaan iman dan hikmah.

 Dalam perjalanan isra' dari Makkah menuju Palestina, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam singgah di beberapa tempat yaitu Yatsrib, Thur Saina' dan Bait lahm.

   Yatsrib atau Thoibah adalah daerah tujuan hijrah Nabi dan para sahabatnya, yang kemudian diubah namanya oleh Nabi menjadi al Madinah al Munawwaroh.

   Dari tempat ini Islam menyebar ke seluruh Dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أمرت بقرية تأكل القرى وهي طيبة


"Aku diperintahkan untuk (hijrah) pada suatu kampung yang akan memakan (yakni Islam akan menyebar dari situ ke) kampung-kampung lain  yaitu Thoibah.

   Al Madinah al Munawwaroh adalah salah satu dari dua tanah haram. Di sini terdapat al Masjid an Nabawi dan makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

   Thursaina' adalah tempat nabi Musa 'alayhissalam diperdengarkan kalam Allah yang azali dan abadi, bukan berupa bahasa, huruf dan suara.

   Nabi Musa berada di tempat itu, tetapi Allah tetap ada tanpa tempat dan arah.

   Bait Lahm adalah tempat kelahiran nabi Isa' alayhissalam.

   Tempat ini berada Palestina, sebelah selatan Baitul maqdis.

  Dalam sebagian riwayat, beliau juga singgah di Madyan.
Madyan adalah daerah yang pernah didiami oleh Nabi Syu'aib 'alayhissalam. 

   Di tempat-tempat ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun dan menjalankan sholat sunnah dua rekaat.

  Ini adalah dalil bagi Ahlussunnah wal Jama’ah tentang bolehnya bertabarruk dengan atsar (jejak dan peninggalan) para Nabi.

➡️Tabarruk artinya meminta tambahan kebaikan kepada Allah dengan sebab nabi atau wali.

⛔Waspadalah terhadap kelompok Wahhabi yang menganggap tabarruk dengan atsar para Nabi sebagai bentuk kesyirikan. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri mengajarkan dan menuntunkan tabarruk dengan atsar para Nabi, sebagaimana beliau lakukan dalam perjalanan Isra'.

  Tujuan dari Isra' adalah memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam bawah.

Allah ta'ala berfirman:

لنريه من ءاياتنا

"Untuk Kami perlihatkan kepadanya (Muhammad) tanda-tanda kebesaran kami".

Di antara keajaiban yang diperlihatkan kepada Rasulullah dalam perjalanan Isra' adalah:

1. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat sebuah kaum yang menanam dan panen, ketika mereka memanen, tanaman tersebut kembali lagi seperti semula.
👆Jibril mengatakan: mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

2. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat sebuah kaum yang memecahkan kepalanya dengan batu besar, setiap kali pecah, kepala itu kembali seperti semula.
👆Jibril mengatakan: mereka adalah orang yang berat dalam melaksanakan sholat.

3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, auratnya tertutup hanya dengan kain-kain kecil.

 Jibril mengatakan: mereka adalah orang-orang yang enggan menunaikan zakat.

4. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat orang-orang yang digunting lidahnya dengan gunting yang terbuat dari api.

 Jibril mengatakan: Mereka adalah para penceramah yang menyebarkan fitnah. Isi ceramahnya justru berisi ajaran-ajaran yang menyimpang dan sesat.

 Di antara keajaiban yang diperlihatkan oleh Allah dalam perjalanan Isra' adalah:

5. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat makhluk yang menyingkir dari bahu jalan seraya memanggil-manggil beliau.
👆Jibril mengatakan: itu adalah Iblis. Iblis adalah jin pertama yang Allah ciptakan. Ia diciptakan dari api. Jin bukanlah malaikat apalagi pemimpin malaikat.

Allah ta'ala berfirman:

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ ٱسۡجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِبۡلِیسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ

[Surat Al-Kahfi 50]
"Ketika kami katakan pada para malaikat, sujudlah kalian pada Adam maka mereka sujud kecuali Iblis, dia berasal dari bangsa jin.
👆Pada mulanya Iblis adalah jin muslim, kemudian ia menjadi kafir karena protes kepada Allah ta'ala. 

6. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat orang tua Renta.
👆Jibril berkata: itu adalah dunia.

7. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati sekelompok orang yang mengucapkan salam kepada beliau.
👆Jibril berkata: mereka adalah nabi Ibrahim, Musa dan Isa

8. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya, ia tidak mampu untuk membawanya, tetapi justru dia menambahkan kayu bakar pada ikatan kayu tersebut.
👆Jibril mengatakan: itu adalah orang yang tidak mampu menjaga amanah (kepercayaan) orang lain.

9. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat sebuah kaum yang perut mereka seperti rumah, ketika salah seorang mereka akan bangkit, ia jatuh.
👆Jibril mengatakan: mereka adalah orang-orang yang makan riba

10. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat sebuah kaum yang memakan daging mentah yang busuk dan meninggalkan daging yang sudah matang dan masih baik.
👆Jibril mengatakan: mereka adalah para pelaku zina.

والله أعلم بالصواب

#LDNU KAB KEDIRI

Ngaji Kitab Aqidatul Awam ( 7- 8 )


*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (7)*

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
سميع البصير والمتكلم # له صفات سبعة تنتظم

"(Dan Allah itu adalah) itu Dzat yang maha mendengar, melihat dan berfirman. Allah memiliki tujuh sifat yang disebutkan secara tersusun".

*Penjelasan*
✅As Syaikh Ahmad Marzuki melanjutkan penjelasan tentang sifat wajib bagi Allah, yaitu:

11. Kaunuhu samii'an, artinya Allah disifati dengan sifat sama' (mendengar).
👆Penjelasannya akan diuraikan dalam pembahasan sifat sama' pada nadzam berikutnya.

12. Kaunuhu Bashiran, artinya Allah disifati dengan sifat bashor (melihat)
👆Penjelasan akan diutarakan pada pembahasan tentang sifat bashor pada nadzam berikutnya.

13. Kaunuhu mutakalliman, artinya Allah disifati dengan sifat kalam (berfirman).
👆Penjelasan akan diuraikan dalam pembahasan tentang sifat kalam pada nadzam berikutnya.
✅Tujuh sifat terakhir yang telah disebutkan di atas disebut sifat ma'nawiyah.
✔️Pada umumnya para ulama menyebutkan tujuh sifat ma'nawiyah setelah tujuh sifat ma'ani, tetapi dalam mandzumah Aqidatul Awam ini, as Syaikh Ahmad al Marzuki menyebutkan sifat ma'nawiyah terlebih dahulu sebelum sifat ma'ani.
✔️Tentang sifat ma'nawiyah sendiri para ulama Asy’ariyah berbeda pendapat. Para ulama mutaqoddimin (generasi awal) tidak memasukkan sifat ma'nawiyah sebagai sifat wajib bagi Allah yang wajib diketahui oleh setiap muslim.
👆Karena orang yang meyakini 7 sifat ma'ani pasti juga meyakini 7 makna sifat ma'nawiyah.
❤️ Kaunuhu qoodiron artinya Allah memiliki sifat qudroh
❤️Kaunuhu muriidan artinya Allah memiliki sifat iradah.
❤️Kaunuhu 'Aliman artinya Allah memiliki sifat ilmu
❤️Kaunuhu samii'an, bashiiron, hayyan, mutakalliman artinya Allah memiliki sifat sama', bashor, hayah dan kalam

*Catatan:*
✔️Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengelompokkan sifat wajib bagi Allah menjadi empat bagian, yaitu:

1. Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang tidak masuk akal adanya Dzat tanpa sifat itu.
☝️Sifat Nafsiyyah hanya satu, yaitu sifat wujud.

2. Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan penafian terhadap sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah.
☝️Sifat Salbiyyah ada lima, yaitu qidam, baqo', qiyamuhu binafsihi, Mukhalafatuhu lil hawaditsi, wahdaniyah

3. Sifat Ma'aniy, yaitu sifat-sifat Allahvyang apabila hijab maknawi dibuka dari kita maka kita akan bisa melihatnya.
☝️Sifat Ma'aniy ada tujuh, yaitu qudroh, iradah, ilmu, hayah, sama', Bashor, kalam.

4. Sifat Ma'nawiyyah, yaitu sifat-sifat Allah yang merupakan keniscayaan dari sifat-sifat ma'aniy.
☝️Sifat Ma'nawiyyah ada tujuh, yaitu Kaunuhu Qoodiron, Kaunuhu Muriidan, Kaunuhu Aaliman, Kaunuhu hayyan, Kaunuhu Samii'an, Kaunuhu Bashiiron, Kaunuhu Mutakalliman.


*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (8-1)*

فقدرة إرادة سمع بصر #حياة العلم كلام استمر
"sifat qudroh, irodah, sama', bashor, ilmu, kalam"

*Penjelasan*
✅As Syaikh Ahmad Marzuki melanjutkan penjelasannya tentang sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat ma'ani sebagai berikut:

15. Qudroh, artinya Allah disifati dengan sifat qudroh (kuasa) yang sempurna.
👆Dengan sifat qudroh itu Allah mengadakan makhluk dari tidak ada menjadi ada (al Iijad)
👆Dengan sifat qudroh itu Allah meniadakan makhluk dari ada menjadi tidak ada.
➡️Dalil naqli tentang sifat qudroh adalah firman Allah ta'ala:

إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ

[Surat Al-Baqarah 20]
➡️Dalil aqli tentang sifat qudroh adalah:
⭕Seanadainya Allah tidak memiliki sifat qudroh maka Ia lemah
👆Sesuatu yang lemah bukan tuhan.
👆Dan seandainya Allah itu lemah, pastilah alam semesta ini tidak ada.
🙏Faktanya, alam semesta ini ada maka pastilah Allah itu memiliki sifat qudroh

15. Irodah, artinya Allah mengkhusukan/menentukan makhluk dengan sebagian sifat, tidak dengan sebagian sifat yang lain, dengan waktu tertentu tidak dengan waktu yang lain.
❤️Semua yang telah Allah khususkan/tentukan terjadinya pada azal, maka pasti terjadi sesuai dengan sifat-sifat dan waktu yang telah dikhususkan tersebut.
➡️ Dalil naqli tentang sifat iradah adalah firman Allah ta'ala:

(فَعَّالࣱ لِّمَا یُرِیدُ)

[Surat Al-Buruj 16]
"Allah melakukan apa saja sesuai dengan yang Ia kehendaki, tanpa ada seorang pun yang bisa menghalangi terjadinya".
💛Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan sebuah wirid kepada sebagian putrinya:

ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن

"Apapun yang telah Allah kehendaki pada azal terjadinya maka pasti terjadi dan apapun yang tidak Allah kehendaki pada azal maka pasti tidak terjadi". 
➡️Dalil aqli tentang sifat iradah adalah:
⭕Seandainya Allah tidak memiliki sifat iradah maka pastilah alam semesta ini tidak ada.
☝️Karena adanya alam dengan segala sifat-sifatnya membutuhkan pada Dzat yang menentukan dan mengkhususkanya pada sifat-sifat tersebut.
🙏Faktanya alam semesta ini ada, maka Allah pasti memiliki sifat iradah.

16. Sama', artinya Allah ta'ala mendengar segala sesuatu dengan pendengaran yang azali dan abadi.
👆Pendengaran Allah tidak sama dengan pendengaran makhluk. Allah mendengar tanpa membutuhkan pada telinga atau piranti lainya.
➡️Dalil naqli tentang sifat sama' adalah firman Allah ta'ala:

وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)

[Surat Asy-Syura 11]
"Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat".
➡️Dalil aqli tentang sifat sama' adalah:
⭕Jika Allah tidak memiliki sifat sama' (mendengar) maka Ia tuli
☝️Tuli adalah sifat naqsh atau sifat yang tidak layak bagi Allah.

17. Bashor, artinya Allah melihat segala sesuatu dengan penglihatan yang azali dan abadi
👆Penglihatan Allah berbeda dengan penglihatan makhluk. Allah melihat tanpa membutuhkan mata atau piranti lainya.
➡️Dalil naqli tentang sifat bashor adalah firman Allah ta'ala:

وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)

[Surat Asy-Syura 11]
"Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat".
➡️Dalil aqli tentang sifat bashor adalah:
⭕Jika Allah tidak memiliki sifat bashor maka berarti Ia buta
☝️Buta adalah sifat naqsh atau sifat yang tidak layak bagi Allah.


*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (8-2)*
قال المؤلف رحمه الله تعالى:
فقدرة إرادة سمع بصر #حياة العلم كلام استمر

"Sifat qudroh, irodah, sama', bashor, ilmu dan kalam"

*Penjelasan*
✅As Syaikh Ahmad Marzuki melanjutkan penjelasannya tentang sifat ma'aniy, yaitu:

18. Hayah, artinya Allah itu maha hidup, hidupnya Allah tidak seperti hidupnya makhluk.
👆Hidupnya Allah azaliyah (tidak berpermulaan) dan abadiyyah (tidak berpenghabisan), berbeda dengan hidupnya makhluk yang haaditsah (berpermulaan).
👆Hidupnya Allah tidak membutuhkan pada ruh, daging, tulang, darah dan piranti-piranti lainnya. Berbeda dengan hidup makhluk yang bergantung pada ruh, darah, daging, tulang dan piranti-piranti lainnya.
➡️Dalil naqli tentang sifat hayah adalah firman Allah ta'ala:

ٱللَّهُ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَیُّ

[Surat Al-Baqarah 255]
"Allah, tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Dia yang maha Hidup".
➡️Dalil aqli tentang sifat hayat adalah:
❤️Seandainya Allah tidak memiliki sifat hayah, pastilah Dia tidak memiliki sifat qudroh, iradah dan ilmu.
☝️Karena sesuatu yang tidak hidup seperti batu, pohon dan semacamnya tidak dapat disifati dengan berkuasa (qudroh), berkehendak (iradah) dan mengetahui (Ilmu).
☝️Dan seandainya Allah itu tidak hidup pastilah alam semesta ini tidak ada, namun faktanya alam semesta ini ada dan bisa disaksikan dengan mata.

19. Ilmu, artinya Allah itu maha mengetahui dengan ilmu yang azaliy (tidak berpermulaan) dan abadiy (tidak berpenghabisan), berbeda dengan ilmu makhluk yang haaditsah (berpermulaan dan di dahului oleh kebodohan).
👆Dengan sifat ilmu yang azali dan abadiy, Allah mengetahui segala sesuatu.
⭕Allah mengetahui sesuatu yang telah terjadi
⭕Allah mengetahui sesuatu yang sedang terjadi
⭕Allah mengetahui sesuatu yang akan terjadi
⭕ Allah mengetahui sesuatu yang tidak terjadi, seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.
❤️Tidak ada sesuatupun yang samar bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun di langit.
*⛔Perhatian:*
Allah ta'ala mengetahui segala sesuatu itu dengan secara rinci (tafshili), bukan hanya secara global (ijmaaliy), sebagaimana diyakini oleh Mu'tazilah.
➡️Dalil naqli tentang sifat ilmu adalah firman Allah ta'ala:

 وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ

[Surat Al-Baqarah 29]
"Dan Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu".
➡️Dalil aqli tentang sifat ilmu adalah:
❤️Seandainya Allah tidak memiliki sifat ilmu, pastilah Dia bodoh
👆Sedangkan bodoh adalah naqsh atau sifat yang tidak layak bagi Allah ta'ala.
👆Dan seandainya Allah itu bodoh pastilah alam semesta ini tidak ada, karena tidak mungkin alam semesta yang begitu menakjubkan diciptakan oleh Dzat yang bodoh, tetapi faktanya alam semesta itu ada dan bisa disaksikan dengan mata.

20. Kalam, artinya Allah maha berfirman dengan kalam yang azali (tidak berpermulaan) dan abadiy (tidak berpenghabisan), berbeda dengan kalam makhluk-Nya.
👆Karena itu, Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa kalam Allah itu bukan bahasa, bukan huruf dan juga bukan suara.
💜Al Imam Abu Hanifah Radliyallahu anhu dalam kitab al Fiqh al Akbar berkata:

والله يتكلم لا بآلة وحرف ونحن نتكلم بآلة وحرف

"Allah berfirman tidak dengan alat dan huruf, sedangkan kita berkata dengan alat dan huruf"
➡️Dalil naqli tentang sifat kalam adalah firman Allah ta'ala:

 وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِیمࣰا

[Surat An-Nisa' 164]
"Dan benar-benar Allah telah memperdengarkan kalam-Nya kepada nabi Musa"
➡️Dalil aqli tentang sifat kalam adalah:
❤️Seandainya Allah tidak memiliki sifat kalam pastilah dia bisu.
👆Sedangkan bisu adalah naqs atau sifat yang tidak layak bagi Allah ta'ala.


Ngaji Kitab Aqidatul Awam 3-6



*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (3)*
ثم الصلاة والسلام سرمدا # على النبي خير من قد وحدا
وآله وصحبه ومن تبع # سبيل دين الحق غير مبتدع
"Kemudian shalawat dan salam selamanya semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi, sebaik-baiknya orang yang benar-benar telah mentauhidkan (Allah) dan pada keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti jalan agama yang benar, bukan pelaku bid'ah (yang sesat)".


*Penjelasan*
✅ Setelah membaca basmalah dan hamdalah as Syaikh Ahmad al Marzuki membaca shalawat pada Nabi, keluarga, para sahabat serta seluruh orang yang mengikuti agama yang benar, yaitu Islam.
👆Membaca shalawat adalah untuk mengikuti perintah al Qur'an, Allah ta'ala berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
[Surat Al-Ahzab 56]
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawat salamlah kalian kepadanya"
➡️Allah bersholawat kepada Nabi artinya Allah merahmati Nabi.
➡️Malaikat bershalawat kepada Nabi artinya para malaikat beristighfar untuk Nabi.
➡️ Orang-orang beriman bersholawat kepada Nabi artinya meminta kepada Allah tambahan keagungan dan kemuliaan untuk nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam.
➡️Orang-orang mukmin mengucapkan salam kepada Nabi artinya meminta kepada Allah agar hal-hal yang dikhawatirkan Nabi terjadi pada umatnya tidak terjadi.
✅As Syaikh Ahmad al Marzuki juga bershalawat untuk keluarga, sahabat dan seluruh umat Islam.
➡️Sahabat Nabi adalah (1) orang pernah yang bertemu dengan Nabi (2) di masa hidup beliau, (3) beriman dengan beliau dan (4) mati dalam keadaan beriman.
👆Orang yang hidup pada masa nabi dan beriman kepadanya, tetapi tidak pernah bertemu dengan nabi tidak disebut sahabat seperti Ashhamah an Najasyi.
👆Orang yang bertemu dan melihat nabi dalam mimpi juga tidak disebut sahabat, meskipun orang yang bermimpi bertemu dengan Nabi benar-benar dia telah melihat Nabi.
💛Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
 مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي
"Siapa melihatku dalam mimpi, berarti ia telah melihatku, sebab setan tidak bisa menjelma sepertiku" HR al Bukhori
👆Orang-orang yang bertemu dengan Nabi di masa hidup beliau, tetapi dia tidak beriman kepada Nabi bukan disebut sahabat seperti Abu Thalib, Abu Lahab dan semacamnya.
👆Orang-orang yang bertemu dengan nabi di masa hidup beliau, kemudian beriman kepada beliau tetapi kemudian murtad dan mati dalam keadaan murtad tidak disebut sahabat, seperti orang-orang yang murtad  setelah wafatnya Rasulullah dan terbunuh dalam peperangan dengan umat Islam pada masa Sayyidina Abu Bakar.
➡️ Keluarga nabi adalah para istri nabi dan anak dan cucu Nabi.
➡️ Orang-orang yang mengikuti jalan agama yang benar adalah umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Asy'ariyah dan Maturidiyah) , bukan ahli bid'ah sesat dalam aqidah seperti Khawarij, Syi'ah, Qadariyah, Jabriyah, Murjiah, Muktazilah, musyabbihah, Wahhabi dan semacamnya.

*⛔Perhatian:*
✔️Dalam membaca shalawat dengan shighot اللهم صل على سيدنا محمد, tidak boleh memanjangkan harakat lam pada kata (صل) sehingga menjadi (صلي), karena bacaan seperti ini akan merubah makna.
👆Dalam bahasa Arab bentuk fiil Amr seperti itu untuk perintah pada perempuan. Sehingga seakan-akan orang yang membacanya meyakini bahwa Allah itu perempuan. *Padahal dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Allah bukan laki-laki juga bukan perempuan*.
👆Adapun bentuk fiil Amr yang menggunakan bentuk mudzakkar (laki-laki) itu mengacu pada lafadz jalalah (الله) yang berbentuk mudzakkar, tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki.

*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (4)*

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
وبعد فاعلم بوجوب المعرفة # من واجب لله 
عشرين صفة

"Dan setelah (membaca basmalah, hamdalah dan shalawat), ketahuilah tentang wajibnya mengenal (Allah), yaitu dengan mengetahui sifat wajib bagi Allah yang berjumlah 20 sifat"

*Penjelasan*
✅ As Syaikh Ahmad al Marzuki menegaskan bahwa ma'rifatullah (mengenal Allah) adalah wajib bagi setiap mukallaf.
👆Karena benar dan salahnya i'tiqod (keyakinan) seseorang tergantung pada benar dan salahnya dalam mengenal Allah. Seseorang yang mengenal Allah secara benar, maka i'tiqodnya akan benar. Sebaliknya, seseorang yang mengenal Allah secara salah, maka i'tiqodnya juga akan salah.
👆Karena i'tiqod artinya ridlo dengan apa yang diketahui.
💛Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
انا اعلمكم بالله واخشاكم له
"Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan orang yang paling takut pada Allah"
💜Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, Al Imam Abul Hasan al Asy’ari radliyallahu 'anhu berkata:
أول ما يجب على العبد العلم بالله ورسوله ودينه
"Kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah mengenal Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya".
✅Ma'rifatullah (mengenal Allah) adalah dengan mengetahui sifat-sifat wajib bagi Allah, sifat-sifat mustahil bagi Allah dan sifat jaiz bagi Allah.
👆Mengenal Allah berbeda dengan mengenal makhluk. Mengenal makhluk adalah dengan mengetahui nama, alamat rumah, orang tuanya, warna kulitnya, tinggi badannya dan seterusnya, sedangkan mengenal Allah tidak dengan seperti itu karena Allah bukan benda dan tidak disifati dengan sifat benda.
✅ Para ulama Asy’ariyah mutaqoddimin berpendapat bahwa sifat wajib bagi Allah berjumlah 13 sifat. Sedangkan menurut para ulama Asy’ariyah mutaakhirin, sifat wajib bagi Allah berjumlah 20 sifat.
👆Perbedaan keduanya hanya perbedaan lafdzi karena penjelasan tentang 7 sifat maknawiyah (kaunuhu qaadiran wa muriidan wa 'aaliman, wa hayyan, wa samii' an, wa bashiiran wa mutakalliman) sudah terkandung dalam 7 sifat ma'ani (qudroh, iradah, ilmu, hayah, sama', bashor, kalam).
✔️Para ulama mewajibkan setiap muslim untuk mengetahui 20 sifat wajib bagi Allah, karena:
1. 20 sifat tersebut telah disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits secara berulang-ulang, baik secara lafadz maupun makna.
2.20 sifat tersebut dapat diketahui dengan akal.
👆Jadi penwajiban mengetahui 20 sifat wajib bagi Allah, bukan berarti bahwa para ulama membatasi sifat Allah hanya 20 sifat sebagaimana tuduhan kelompok Wahhabi.

*❤️Catatan:*
➡️ Sifat wajib bagi Allah artinya sifat yang secara akal Allah pasti bersifat dengan sifat tersebut.
➡️Sifat mustahil bagi Allah artinya sifat yang secara akal Allah pasti tidak bersifat dengan sifat tersebut.


*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (5)*

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
فالله موجود قديم باقي # مخالف للخلق بالاطلاق

"Allah itu ada, adanya tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, berbeda dengan makhluk secara mutlak"

*Penjelasan*
✅As Syaikh Ahmad Marzuki menjelaskan tentang sifat wajib bagi Allah, sebagai berikut:

1. Wujud, artinya Allah itu ada, tidak ada keraguan terhadap adanya Allah.

➡️Dalil naqli tentang adanya Allah adalah firman Allah ta'ala:

أَفِی ٱللَّهِ شَكࣱّ فَاطِرِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ 

[Surat Ibrahim 10]
" Tidak ada keraguan tentang adanya Allah, Dzat yang menciptakan langit dan bumi".

➡️Dalil aqli (bukti rasional) tentang adanya Allah adalah adanya alam semesta ini.

➡️Akal mengatakan:
❤️Ada bangunan pasti ada yang membangun
❤️Ada tulisan pasti ada yang menulis
❤️Ada pukulan pasti ada yang memukul
❤️Ada perubahan pasti ada yang merubah
🙏Ada langit dengan segala isinya, bumi dengan segala isinya pasti ada pencipta yang mengadakannya dari tidak ada menjadi ada. Dan pencipta Alam semesta ini adalah Allah ta'ala, berdasarkan berita dari para Nabi.

2. Qidam, artinya Allah itu qodim (adanya tanpa permulaan).
➡️Dalil naqli tentang sifat qidamnya Allah adalah firman Allah ta'ala:
هُوَ ٱلۡأَوَّلُ 
[Surat Al-Hadid 3]
"Dia (Allah) Dzat yang tidak berpermulaan"
➡️Dalil aqli tentang sifat qidamnya Allah ta'ala adalah:
❤️Jika Allah tidak qodiim maka dia haadits (berpermulaan)
❤️Jika Allah adanya berpermulaan maka membutuhkan pada yang mengadakannya dari tidak ada menjadi ada.
⛔Sesuatu yang diadakan dari tidak ada menjadi ada adalah makhluk (ciptaan), bukan Tuhan/al Khaaliq.
⛔Sesuatu yang membutuhkan pada yang lain adalah lemah, dan sesuatu yang lemah bukanlah Tuhan.

3. Baqo', artinya Allah itu baaqin (adanya tanpa berpenghabisan).
➡️Dalil naqli tentang baqo'nya Allah adalah firman Allah ta'ala:

وَیَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَـٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ

[Surat Ar-Rahman 27]
"Dan abadi Dzat Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan".
➡️ Dalil aqli tentang baqo'nya Allah adalah:
❤️Telah terbukti baik secara naqli maupun aqli bahwa Allah adanya tanpa permulaan.
👆Sesuatu yang adanya tanpa permulaan, secara akal pasti adanya tanpa berpenghabisan.
❤️Maka Allah yang tidak berpermulaan pasti juga tidak berpenghabisan.

4. Mukhalafatul lil hawaditsi, artinya Allah berbeda dengan makhluk, Dia bukan benda dan tidak disifati dengan sifat benda.
❤️Allah ada tanpa tempat dan arah
❤️Allah tidak berlaku bagi-Nya zaman
❤️Allah tidak memiliki bentuk dan ukuran
❤️Allah tidak beranggotakan tangan
❤️Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk lainnya.
➡️Dalil naqli tentang sifat Mukhalafatul lil hawaditsi adalah firman Allah ta'ala:

لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

[Surat Asy-Syura 11]
"Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah, baik dari satu segi maupun semua segi, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat".
➡️Dalil aqli tentang sifat Mukhalafatul lil hawaditsi adalah:
💙Al Imam Abu Hanifah Radliyallahu anhu berkata:
انى يشبه الخالق مخلوقه
"Tidak mungkin sang Pencipta menyerupai ciptaannya"
💙 Yang membuat kursi tidak serupa dengan kursi
💙Yang membuat meja tidak serupa dengan meja
💙Yang membuat mobil tidak serupa dengan mobil
🙏Allah yang menciptakan manusia, malaikat, jin dan semua makhluk pasti tidak serupa dengan semua makhluk-Nya.


*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (6)*

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
وقائم غني وواحد وحي # قادر مريد عالم بكل شيء

"(Dan Allah itu adalah) Dzat yang yang tidak butuh pada selainnya, Dzat yang maha kaya, Esa (tidak ada sekutu bagi-Nya), Dzat yang maha hidup, Dzat yang maha kuasa, Dzat yang maha berkehendak, Dzat yang maha mengetahui terhadap segala sesuatu".

*Penjelasan*
✅As Syaikh Ahmad Marzuki melanjutkan penjelasan tentang sifat wajib bagi Allah, yaitu:

5. Qiyamuhu binafsihi, artinya Allah maha kaya, tidak membutuhkan pada selain-Nya.
❤️Allah ta'ala yang telah menciptakan manusia, malaikat dan jin tidak membutuhkan mereka semua.
❤️Allah ta'ala yang telah menciptakan langit, bumi, Arsy serta tempat-tempat yang lain tidak membutuhkan pada semua itu.
❤️Allah ta'ala yang telah menciptakan makhluk tidak membutuhkan pada makhluk.
➡️Dalil naqli tentang sifat Qiyamuhu binafsihi adalah firman Allah ta'ala:

فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِیٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

[Surat Ali 'Imran 97]
"Sesungguhnya Allah itu Maha Kaya (tidak membutuhkan) pada alam semesta".
➡️Dalil aqli tentang sifat Qiyamuhu binafsihi adalah:
⭕Jika Allah tidak bersifatan dengan qiyamuhu binafsihi pastilah bersifatan dengan sifat sebaliknya yaitu membutuhkan pada selain-Nya.
⭕ Sedangkan sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain adalah lemah
⭕Dan sesuatu yang lemah adalah bukan Tuhan.
*⛔Peringatan*
✔️Tidak tepat pemaknaan qiyamuhu binafsihi dengan bahwa Allah berdiri sendiri.

6. Wahdaniyah, artinya Allah itu Esa dengan pengertian tidak ada sekutu bagi-Nya.
❤️Allah ta'ala Esa dalam Dzat, artinya Dzat Allah tidak serupa dengan Dzat makhluk.
👆Dzat Allah artinya hakekat Allah yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah, sedangkan Dzat makhluk adalah badan atau jisimnya.
❤️Allah ta'ala Esa dalam sifat, artinya sifat Allah tidak serupa dengan sifat makhluk.
👆Sifat Allah azaliyah abadiyah, sedangkan sifat makhluk haaditsah (baharu/berubah-ubah).
❤️Allah Esa dalam perbuatan, artinya perbuatan Allah tidak serupa dengan perbuatan makhluk.
👆Perbuatan Allah azali abadi, sedangkan perbuatan makhluk adalah haadits/makhluk, Allah ta'ala yang telah menciptakannya pada manusia.
✔️Allah itu Esa tidak dari segi bilangan, tetapi dari segi bahwa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya.
💜Al Imam Abu Hanifah Radliyallahu anhu berkata:

إن الله واحد لا من طريق العدد ولكن من طريق انه لا شريك له

"Sesungguhnya Allah itu Esa tidak dari jalan bilangan tetapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya"
➡️Dalil naqli tentang sifat wahdaniyah Allah adalah firman Allah ta'ala :

وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ

[Surat Al-Baqarah 163]
"Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Esa".
➡️Dalil aqli tentang sifat wahdaniyah Allah adalah:
⭕Seandainya Tuhan itu tidak Esa pastilah dia berbilang
⭕Dan apabila dia berbilang maka alam semesta itu tidak akan ada dan tidak akan teratur.
⭕Tetapi faktanya alam semesta ini ada dan sangat teratur, maka pastilah Tuhan itu Esa.

7. Kaunuhu Hayyan, artinya Allah itu disifati dengan sifat hayah (hidup).
👆Penjelasannya akan diuraikan dalam pembahasan sifat hayah pada nadzam berikutnya

8. Kaunuhu qaadiran, artinya Allah itu disifati dengan sifat qudroh.
👆Penjelasannya akan diuraikan dalam pembahasan sifat qudroh pada nadzam berikutnya

9. Kaunuhu muriidan, artinya Allah disifati dengan sifat iradah.
👆Penjelasannya akan diuraikan dalam pembahasan sifat iradah pada nadzam berikutnya

10. Kaunuhu 'Aliman, artinya Allah disifati dengan sifat ilmu.
👆Penjelasannya akan dijelaskan dalam pembahasan sifat ilmu pada nadzam berikutnya.



Ngaji Kitab Aqidatul Awam (2)



*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (2)*
قال المؤلف رحمه الله تعالى:
فالحمد لله القديم الأول # الآخر الباقي بلا تحول
"Segala puji bagi Allah yang adanya tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, yang abadi dengan tanpa ada perubahan"

*Penjelasan*
✅ Setelah membaca basmalah, as Syaikh Ahmad al Marzuki mengiringinya dengan membaca hamdalah.
👆Hamdalah atau yang juga disebut tahmid berbunyi الحمد لله.
👆Maknanya:
الثناء باللسان على الجميل الاختياري
 "Pujian dengan lisan terhadap al jamiil al ikhtiyariy, yakni nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya, yang bukan merupakan kewajiban bagi-Nya.

*⛔Perhatian:*
✔️Dalam akidah Aswaja, memberi nikmat kepada makhluk bukan merupakan kewajiban bagi Allah, karena tidak ada sesuatu yang wajib bagi Allah. Memberi nikmat kepada makhluk adalah fadl (karunia) Allah.
👆Aqidah ini berbeda dengan Aqidah Mu'tazilah yang meyakini bahwa Allah wajib memberi yang terbaik untuk makhluk-Nya.

✔️Nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia sangat banyak, tidak terhitung jumlahnya.
❤️Allah ta'ala berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ
[Surat An-Nahl 18]
"Apabila kalian menghitung-hitung nikmat Allah maka kalian tidak akan bisa menghitungnya (karena banyaknya)"
✔️Wajib bagi seorang muslim mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.
👆Bersyukur ada dua macam:
1⃣Bersyukur yang hukumnya wajib, yaitu tidak menggunakan nikmat yang Allah berikan kepada kita dalam kemaksiatan seperti tidak menggunakan tanggan untuk mencuri, uang untuk berjudi, dan lisan untuk mencaci.
2⃣Bersyukur yang hukumnya sunnah, yaitu memuji Allah dengan lisan dengan mengucapkan hamdalah dan semisalnya.
✅ As Syaikh al Marzuki menyebutkan beberapa nama Allah, yaitu:
➡️ al Qadim al Awwal, dua nama Allah ini memiliki makna yang sama, yaitu Dzat yang adanya tanpa ada permulaannya.
👆Karena sesuatu yang berpermulaan pasti ada yang menjadikannya dari tidak ada menjadi ada. Dan sesuatu yang seperti itu disebut makhluk. Padahal Allah adalah al Khaaliq (Pencipta), bukan makhluk (yang diciptakan).
➡️Al Akhiru al Baaqii, dua nama Allah ini memiliki makna yang sama, yaitu Dzat yang adanya tanpa berpenghabisan, abadi tidak akan punah.
👆Karena secara akal, sesuatu yang tidak berpermulaan pasti tidak berpenghabisan, Allah adanya tanpa permulaan maka adanya Allah juga tidak berpenghabisan.
❤️Allah ta'ala berfirman:
هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡـَٔاخِرُ 
[Surat Al-Hadid 3]
"Dia Allah adalah Dzat yang adanya tanpa permulaan dan tanpa penghabisan".
✔️Selanjutnya as Syaikh Ahmad al Marzuki menegaskan bahwa Allah abadi, tanpa ada perubahan.
👆Karena berubah adalah tanda terbesar dari makhluk. Setiap yang berubah membutuhkan pada yang merubahnya, dan sesuatu yang membutuhkan pada yang lain adalah lemah, dan sesuatu yang lemah adalah makhluk.

والله أعلم بالصواب
#رابطةالمبلغين النهضية كديري

Minggu, 15 Maret 2020

TAFSIR AYAT AL-QUR'AN TENTANG AQIDAH BAG (1)






*TAFSIR AYAT AQIDAH (1)*

 لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ
[Surat Asy-Syura 11]

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah baik dari satu segi maupun semua segi, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

*Penjelasan*
✅ Ayat ini adalah ayat yang paling jelas di dalam al Qur'an yang menjelaskan tentang kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya secara total.
⛔Lafadz شىء dalam ayat di atas berbentuk nakiroh dan berada dalam struktur kalimat nafi (negatif), dalam ilmu balaghoh berfaidah syumul (menyeluruh); tanpa ada pengecualian.
☝️Sehingga 'شيء' dalam ayat ini berarti segala sesuatu selain Allah (alam/makhluk), tanpa ada pengecualian.
⛔Segala sesuatu selain Allah (alam) secara umum terklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu Benda (Jauhar) dan Sifat benda ('aradl).
☝️Benda ada dua macam, yaitu:
1. Jauhar al Fard, yaitu benda yang tidak bisa dibagi-bagi, karena telah mencapai batas terkecil.
2. Jisim, yaitu benda yang tersusun dari dua Jauhar al Fard atau lebih  atau benda yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman
☝️Selanjutnya jisim ada dua macam, yaitu:
1. Jisim katsif, yaitu jisim yang bisa disentuh dengan tangan seperti manusia, batu, pohon dan semisalnya
2. Jisim Lathif, yaitu jisim yang tidak bisa disentuh dengan tangan, seperti udara, cahaya, kegelapan dan semacamnya.

*Kesimpulan*
*Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya*
Artinya:
➡️ Allah bukan benda (jawhar) dan tidak disifati dengan sifat benda ('aradl).
➡️Allah bukan jawhar al fardl dan juga bukan jisim.
➡️Allah bukan jisim katsif dan bukan jisim lathif.
➡️Allah tidak disifati dengan sifat benda seperti berubah, berada pada arah dan tempat, memiliki bentuk dan ukuran, memiliki warna dan sifat benda lainya.

⛔Allah maha mendengar dan maha melihat
☝️Karena telah ditegaskan sebelumnya bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk maka:
⭕Pendengaran Allah tidak sama dengan pendengaran makhluk
☝️Allah mendengar segala sesuatu tanpa membutuhkan pada telinga atau piranti lainya, berbeda dengan pendengaran makhluk yang membutuhkan pada piranti-piranti tersebut dan terbatas.
⭕Pengelihatan Allah tidak sama dengan penglihatan makhluk
☝️Allah melihat segala sesuatu tanpa membutuhkan pada mata, cahaya dan piranti lainya, berbeda dengan penglihatan kita yang membutuhkan pada piranti-piranti tersebut, dan terbatas.

#Asnuter Jatim

Sabtu, 14 Maret 2020

KHUTBAH JUMA'T * KEUTAMAAN BULAN RAJAB*




KHUTBAH JUM'AT, 13 APRIL 2020
Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ﴿البقرة: ٢٣٨﴾
*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*
     Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
      Di setiap bulan Rajab, kita selalu diingatkan oleh guru-guru kita, para kiai kita, bahwa pada saat Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perintah shalat lima waktu. Begitu istimewanya shalat, sampai-sampai Allah mewahyukan perintah shalat di tempat yang istimewa. Di suatu tempat di atas langit ketujuh, di atas sidratul muntaha. Di suatu tempat yang tidak pernah sekali pun dilakukan kufur, syirik, dosa, dan maksiat di dalamnya.
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ ﴿البقرة: ٢٣٨﴾
Maknanya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” (QS al-Baqarah: 238).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَـمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ (رواه البيهقيّ)
Maknanya: “Ada lima shalat yang Allah wajibkan atas para hamba. Barangsiapa melaksanakannya dan tidak melalaikan salah satu darinya dengan tidak memenuhi haknya, maka ia mendapatkan janji dari Allah akan dimasukkan ke surga. Dan barangsiapa tidak melaksanakannya, maka ia tidak mendapatkan janji dari Allâh tersebut. Jika Allah menghendaki, maka Ia menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Allah memasukkannya ke surga” (HR al Bayhaqi).
   Jadi shalat kedudukannya sangat agung, karena ia adalah amal yang paling utama setelah iman. Barangsiapa yang menjaga dan memeliharanya, sungguh ia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang terhadap shalat ia lalai, maka terhadap selain shalat, pastilah ia lebih abai.
Begitu agungnya shalat, dalam beberapa ayat Al-Qur’an shalat sering disebutkan secara beriringan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antaranya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿البقرة: ٢٧٧﴾
Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala yang diberikan Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 277)
     Apabila kita perhatikan juga, betapa banyak disebutkan dalam al-Qur’an secara beriringan antara perbuatan meninggalkan shalat dengan kekufuran. Allah ta’ala berfirman memberitakan tentang penduduk neraka ketika ditanya:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦) ﴿المدثر: ٤٢-٤٦﴾
Maknanya: “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan” (QS al Muddatstsir: 42-46).
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
Para ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa, jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya atau melecehkannya, maka ia telah kafir. Sedangkan jika ia meninggalkannya karena malas, maka ia tidak kafir, tetapi dihukumi fasiq, pelaku dosa besar.
*Hadirin,*
Janganlah kita menunda-nunda shalat sampai keluar waktunya. Janganlah kita bermalas-malasan melakukan shalat. Di dunia ini, kita bisa saja menunda jadwal perjalanan atau pekerjaan, sedangkan kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda atau dibatalkan. Kita selamatkan diri kita sebelum lewat waktunya. Jatah umur kita terbatas, embusan napas kita ada penghabisannya dan kematian bagaikan pedang yang telah terhunus di atas leher kita, kita tidak tahu kapan ia turun dan menebas batang leher kita. Jika seseorang meninggalkan shalat, tidakkah ia malu kepada Allah yang telah menciptakannya dan menganugerahkan sekian banyak rahmat dan nikmat kepada-Nya?
*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*
Dari sahabat Jabir radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الصَّلَواتِ الخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ( رواه مسلم)
Maknanya: “Perumpamaan Shalat lima waktu adalah ibarat sungai yang melimpah airnya, yang mengalir ke arah pintu rumah salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air tersebut setiap hari sebanyak lima kali.” (HR Muslim).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ (أخرجه أحمد والنسائي والترمذي وغيرهم وقال: حديث حسن صحيح)
Maknanya: “Induk dari segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat” (HR Ahmad, an-Nasaa’i, at-Tirmidzi dan lain-lain. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).
Allah telah menjadikan shalat sebagai penyejuk mata dan jiwa, serta pelipur lara bagi mereka yang dirundung kesedihan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan kepada kita bahwa ketika beliau sedang mengalami masa-masa sulit dan berat, beliau menghibur diri dengan mendirikan shalat (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ (أخرجه أحمد في مسنده والنسائي والبيهقي في السنن وصححه الحاكم في المستدرك وغيرهم)
Maknanya: “Telah dijadikan kesejukan mata dan jiwaku (kebahagiaanku) pada shalat” (HR Ahmad dalam Musnadnya, an-Nasaa’i, al-Baihaqi dalam as-Sunan, dan hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak).
Beliau juga terbiasa menyeru:
يَا بِلالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلاةِ (أخرجه أحمد وغيره)
Maknanya: “Wahai Bilal, (kumandangkan iqamat), berilah kami kenyamanan dan kedamaian dengan (mengerjakan) shalat” (HR Ahmad dan lainnya).
Shalat menjadi kesenangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kedamaian kalbunya serta kebahagiaan hatinya.
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
Marilah kita jadikan bulan Rajab, bulan peringatan mukjizat Isra’ dan Mi’raj, sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita. Shalat yang berkualitas adalah shalat yang sah dan diterima oleh Allah ta’ala. Shalat seseorang dikatakan sah apabila telah memenuhi seluruh syarat sah dan rukunnya serta menjauhi semua hal yang dapat membatalkannya.
Namun demikian, hadirin sekalian, shalat yang sah belum tentu diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’alawi dalam Sullamut Taufiq menjelaskan bahwa supaya shalat kita diterima oleh Allah, selain kita harus memenuhi syarat sah dan rukunnya, kita juga harus memenuhi syarat-syarat diterimanya shalat, yaitu:
- Berniat ikhlas karena mengharap ridha Allah semata.
- Makanan dan minuman yang ada di perut kita sewaktu shalat harus halal.
- Pakaian yang kita kenakan pada saat shalat harus halal.
Tempat yang kita gunakan shalat harus halal.
- Shalat yang kita lakukan harus disertai kekhusyukan, walaupun hanya sebentar. Semakin lama kadar khusyuk kita dalam shalat, maka semakin besar pahala yang kita dapat dari Allah ta’ala.
- Tidak ujub dengan shalat yang dilakukan. Ujub artinya apabila seseorang melihat bahwa kemampuannya menjalankan ibadah adalah keistimewaan dirinya, dan ia lalai untuk mengingat bahwa hal itu sejatinya adalah karunia dari Allah.
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
Khusyuk adalah menghadirkan dalam hati rasa takut kepada Allah, disertai rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.
Khusyuk dalam shalat adalah perbuatan hati yang bisa diraih dan dilakukan dengan beberapa sebab dan cara. Di antaranya adalah memperbanyak mengingat kematian. Ketika kita akan memulai shalat, kita berucap dalam hati: “Mungkin ini adalah shalat terakhirku, setelahnya mungkin aku tidak akan merasakan kehidupan lagi di dunia ini.” Di antara sebab dan cara untuk menghadirkan khusyuk dalam shalat juga adalah dengan merenungkan dan menghayati makna yang terkandung dalam bacaan-bacaan shalat.
*Hadirin yang dirahmati Allah,*
Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, cicit Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saking khusyuknya dalam menjalankan shalat, sampai-sampai suatu ketika rumah beliau terbakar pada saat beliau mendirikan shalat. Orang-orang berteriak memanggilnya, “Api wahai Ali, api wahai Ali,” namun beliau tetap kokoh tak tergoyahkan dalam shalatnya. Pada waktu selesai shalat, beliau mengatakan: “Pikiranku disibukkan dengan api akhirat daripada api kalian.”
*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah*,
Demikian khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan pada bulan Rajab ini kita senantiasa diberi kekuatan, kemudahan dan kemampuan untuk memperbanyak kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضٰالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَّوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ ما نَتَخوَّفُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى ويَنْهٰى عَنِ الفَحْشٰاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Biro Peribadatan & Hukum, Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto
#LDNU KAB KEDIRI

Terjemah & Penjelasan Kitab Aqidatul Awam




*Ngaji Kitab Aqidatul Awam (1)*


تَرْجَمَةُ عَقِيْدَةِ الْعَوَامِ 

نَظْمُ الشَّيْخِ أَحْمَدَ الْمَرْزُوْقِيِّ اْلمَالِكِيِّ

( 1205- 1281 هـ)

: قال المؤلف رحمه الله تعالى

أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ * وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ 

اْلإِحْـسَانِ

"Aku memulai (mengarang kitab ini) dengan menyebut nama Allah, Ar Rahmaan, Ar Rahiim, Dzat yang senantiasa mengkaruniakan kebaikan (kepada para hamba-Nya".


*Penjelasan:*

✅ Kitab ini bernama mandzumah Aqidatil Awam karya As Syaikh Abu al Fawz Ahmad ibn Muhammad Al Marzuqi Rahimahullah. 

✅ As Syaikh Ahmad al Marzuki memulai karangannya dengan basmalah.

☝️Karena dua hal, yaitu:

1⃣ Untuk mengikuti al Quran yang setiap suratnya dimulai dengan basmalah, kecuali surat at Taubah atau al Bara'ah

2⃣Mengikuti anjuran Rasululah shallallahu alaihi wa sallam.

💛Rasulullah bersabda: 

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أقطع


“setiap perkara mulia yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka kurang berkah”

❤️Lafadz jalalah *الله*  adalah nama bagi Dzat yang pasti adanya, yang disifati dengan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan mustahil bagi-Nya setiap sifat kekurangan.

☝️Diantara sifat kekurangan adalah sifat yang berlaku bagi makhluk seperti lemah, butuh pada yang lain, berubah dan bertempat, maka Allah mustahil bersifat dengan setiap sifat tersebut.

👆Allah ta’ala berfirman:

ليس كمثله شيء

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyeruai-Nya baik dari satu segi maupun semua segi”


*⛔Perhatian:*

Lafadz jalalah *الله*, lamnya wajib dibaca mad (panjang/minimal 2 harokat) dan  tidak boleh membuang ha'nya sehingga menjadi اللا. 

❤️Ar Rahmaan adalah Dzat yang banyak memberikan rahmat kepada orang-orang mukmin dan kafir di dunia dan kepada orang-orang mukmin saja di akhirat.

❤️Ar Rahiim adalah Dzat yang banyak memberi rahmat kepada orang-orang mukmin. 

❤️Allah adalah Dzat yang senantiasa mengkaruniakan kenikmatan-kenikmatan kepada para hamba-Nya, dan itu bukan merupakan kewajiban bagi-Nya, tetapi karunia (fadl) dari-Nya 


*Catatan*

✅Pada dasarnya, memulai pekerjaan yang baik dengan basmalah adalah dianjurkan, kecuali dalam beberapa perbuatan baik, di antaranya:

1⃣Shalat, dimulai dengan takbir

2⃣Do'a, dimulai dengan hamdalah

3⃣Khutbah, dimulai dengan hamdalah

✅Memulai perbuatan makruh dengan basmalah adalah makruh

✅Memulai perbuatan haram dengan basmalah adalah haram.

والله أعلم بالصواب


DI TERJEMAHKAN OLEH :

#رابطةالمبلغين النهضية كديري


KHUTBAH JUM'AT " Mukjizat Mi’raj Tidak Berarti Allah di Atas "

KHUTBAH JUM'AT 20 MARET 2020 * Mukjizat Mi’raj Tidak Berarti Allah di Atas * * Khutbah I *   اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ...